#SaveCrewMVNurAllya

Dikutip dari Kompas

” SUDAH SEBULAN HILANG MISTERIUS, APA KABAR KAPAL MV NUR ALLYA ?

Kompas.com – 20/09/2019, 17:00 WIB

KOMPAS.com – Jumat (20/9/2019) hari ini genap sebulan, Kapal Kargo MV Nur Allya hilang di perairan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Keberadaan kapal sepanjang 189 meter dengan lebar 30 meter bersama 25 anak buah kapal (ABK) di dalamnya, masih misterius. Dalam pencarian yang dilakukan melalui jalur laut, darat dan udara, oleh tim SAR gabungan, hanya menemukan puing-puing seperti satu unit sekoci, satu pelampung, satu finder (pelampung bola besar), serta tumpahan minyak.

“Kalau lifeboat (sekoci) dan pelampung sudah dipastikan milik MV Nur Allya, sementara finder belum ada informasinya apakah milik Nur Allya bukan. Sedangkan tumpahan minyak kabarnya akan dibawa ke luar negeri untuk diteliti di sana,” kata Kepala Basarnas Ternate, Muhammad Arafah, saat ditemui di kantornya, Jumat.

Semua puing-puing itu ditemukan oleh SAR gabungan di sekitar perairan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Namun, Basarnas sendiri belum dapat mengambil kesimpulan, apakah kapal yang membawa 50.000 ton lebih nikel itu tenggelam atau lain sebagainya.

Karena sejauh ini, kata Arafah, Basarnas masih menyiagakan armada serta personel untuk tetap melakukan pemantauan aktif. “Apalagi, belum ada saksi yang melihat atau ABK yang ditemukan, yang menjelaskan bahwa kapal itu tenggelam.

Jadi, seluruh temuan puing-puing itu kami serahkan ke KNKT, biarlah nanti mereka yang akan menyimpulkan,” kata Muhammad Arafah. Belum lagi ditambah seluruh ABK-nya sangat terlatih serta memiliki kemampuan dan pengalaman.

Sehingga, apapun yang dialami MV Nur Allya paling tidak ada jeda ataupun tahapan, di mana salah satu dari 25 ABK-nya dapat menginformasikan kondisi emergensi yang dialami. “Tapi, ini tidak ada sama sekali, emergensinya apa.

Yang ada hanya distress alert yang dipancarkan dari wilayah Perairan Obi pada 23 Agustus 2019, sekitar selesai shalat magrib,” ujar Arafah.

“Kalau kapal itu misalkan tenggelam antara pulau Jorongan dan Dama (titik distress), masa tidak ada satupun yang lihat. Kan ada tahapan kalau tenggelam, masa yang dianjungan tak dapat selamatkan diri, tak ada komunikasi sama sekali, cuma yang ada hanya distress.

Paling tidak ada telepon satelit, jalur situ juga kadang ada jalur via HP, radio komunikasi kan sudah dilengkapi,” kata dia.

Kapal MV Nur Allya berangkat dari pelabuhan muat Pulau Sagea, Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, pada 20 Agustus 2019, menuju Pulau Morosi, Sulawesi Tenggara. Pada tanggal 23 Agustus 2019, kapal tersebut mengirimkan distress alert atau sinyal marabahaya dari perairan Kepulauan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Pada beberapa hari kemudian, sinyal distress alert kembali terdeteksi di perairan Pulau Buru, Maluku.

Selain pencarian dilakukan dengan berbagai unsur SAR gabungan, KNKT juga turut serta membantu penyelidikan dengan menggunakan alat ping locater. Namun, sampai saat ini, belum ada hasil mengingat alat tersebut tak dapat dipakai karena terkendala cuaca buruk di Perairan Obi.

Catatan:

Rencana Pencarian berikutnya Oleh Basarnas pada tgl 25 September 2019 , keep Monitoring !!!

#savecrewmvnurallya